Semua Akan (P)indah Pada Waktunya

Semua Akan (P)indah Pada Waktunya :) 

Tulisan ini dibuat tak lama setelah Saya mendengar berita promosi dari orang-orang yang selama ini Saya kenal, yakni beliau-beliau atasan alias bos di lingkungan kanwil BRI Surabaya. Grup BBM sontak ramai, karena berita promosi yang (tidak terlalu) mengejutkan. Utamanya adalah Bapak Harry Gusti Utama, seorang bos Saya langsung, seorang Group Head ARK, orang yang selama ini sabar membimbing Saya sejak penempatan tugas yang pertama.

Sebenarnya ini bukan kali pertama. Saat OJT sekira satu tahun yang lalu, Saya pernah mengalami momen serupa ketika Pinca BRI Palembang Sriwijaya, Pak Sutarno, promosi menjadi Wapinwil Kanwil BRI Makassar. bahkan, bulan lalu, Pinwil BRI Surabaya, Pak Heru Sukanto, juga pergi promosi menjadi Dirut Bank BRI Agroniaga. Sedih jelas ada, ketika melepas Pinwil yang baik hati tersebut. Namun kali ini beda, karena faktor intensitas, kedekatan psikologis, dan tentunya karakter masings. Jadi memang seharusnya Saya sudah mulai terbiasa dengan rotasi, mutasi, promosi, dan demosi.  Tak ada yang harus terlalu dikhawatirkan, toh kita masih satu keluarga, Bank Rakyat Indonesia.

Banyak hal yang bisa diteladani dari Pak Harry Gusti Utama, terutama adalah sifat tenang dan menguasai situasi, sabar, tegas, dan sederhana, baik dalam bersikap maupun saat menjelaskan sesuatu. Tak heran, tak hanya anak buahnya saja yang “berduka” tapi semua orang yang pernah bekerjasama dengan beliau pasti akan merasa kehilangan, meski dengan kadar yang berbeda. Sebuah pelajaran berharga yang harus diambil dan dipraktekkan dalam perjalanan karir serta kehidupan Saya dan siapa saja. Enam bulan rasanya belum cukup untuk menimba “ilmu kehidupan” dari beliau. Saya tak menyesal ketika hampir sebulan lalu menolak tiket gratis ke Jakarta, hanya untuk ikut memberikan kejutan di harlah beliau di kediamannya, Malang.  Beliau sangat terkejut dan senang mendapat surprise di dini hari yang ceria tersebut. Sebagai “anak”, kami sungguh senang bisa silaturrahim langsung bersama keluarga kecilnya, sebuah keluarga bahagia.

Hari-hari setelah Pak Harry promosi tentu penuh tanda tanya dan kekhawatiran bagi Saya dan rekans. Namun kehidupan terus berjalan. Akan ada kedatangan dan kepergian seperti yang sudah digariskan. Seperti senandung Iwan Fals yang tengah Saya dengarkan: Waktu terus bergulir//kita ‘kan pergi dan ditinggal pergi…

Kos-kosan Beranjing Empat Ekor, Surabaya, 1 Juni 2012.

Dipublikasi di Tulisan | 1 Komentar

Catatan Perjalanan Tur Tandang Gresik Asik

Jam di ponsel telah menunjukkan pukul sebelas malam, ketika Josef, rekan kerja Saya mengirimkan pesan dengan media Blackberry Messenger (BBM). Sebelumnya rekan gowes yang lain, Tria, juga sudah menanyakan apakah esok hari, Ahad (22/4), Saya bisa bergabung di acara fun bike memperingati ulang tahun Universitas Surabaya (Ubaya).  Setelah lama menimbang, akhirnya dengan berat hati Saya memutuskan untuk membatalkan acara tersebut. Selain karena acara dimulai sangat pagi, keputusan yang tidak seberat memilih pasangan hidup itu harus diambil demi memenuhi rasa kangen Saya kepada tim Ibukota, Persija. Ya, Persija Jakarta akan menjalani laga tandang melawan Persegres Gresik United di kota Gresik, yang bisa dijangkau dalam waktu 45 menit dari Surabaya.  Cukup dekat dan tentunya akan menjadi momen special untuk Saya, karena akan menjadi laga tandang resmi Persija yang pertama bagi Saya. Sebelumnya Saya menyaksikan Persija langsung di luar kandang adalah melawan Persipasi di Bekasi dan menghadapi Sriwijaya FC di Palembang, keduanya adalah laga persahabatan.

Tepat pukul 09.30 WIB Saya sudah menunggu rekan Armi di halte Unair, mengingat kos-kosan Saya dekat dengan Kampus B Unair. Setelah satu jam menanti, ternyata ada masalah teknis, yakni satu mobil belum siap sehingga membuat rencana awal cukup berantakan. Sembilan belas orang SurabaJak (komunitas pecinta Persija di Surabaya) siap mendukung Persija dan membutuhkan dua mobil. Setelah diskusi kecil, Saya, Armi, dan Dewa (Jak Solo) memutuskan menuju kediaman Jati (Basecamp SurabaJak). Sesampainya disana, semua sudah berkumpul dan siap untuk menuju Gresik. Selain SurabaJak, rombongan terdiri dari Jak Sidoarjo dan Aremania zona Ayahab. Sekira pukul 12 siang kami bersiap dan sebelum berangkat Kami berdoa dan berteriak bersama: “Jaaaakkkk mania!!”

Setelah menempuh perjalanan sekitar 45 menit, akhirnya Kami sampai di Gresik. Suasana di sepanjang jalan menuju stadion dipenuhi oleh Polisi lengkap dengan kendaraan seperti motor, mobil, dan ramtis.  Di lingkungan GOR Petrokimia suasana sudah ramai dan terkendali. Meski begitu, Kami tak ingin mengambil risiko dengan tetap bergabung bersama Jakmania lainnya. Bagaimana pun, penyusup tak diundang bisa saja merusak atmosfir positif yang telah ada. Kecemasan memang jelas terasa saat itu. Jati, yang akan membeli rokok pun dibuat panik dengan adanya seorang Ultras Gresik (pendukung Persegres) yang memakai syal Green Force. Jarak Gresik yang berbatasan langsung dengan Surabaya membuat situasi tidak bisa diprediksi, mengingat hubungan yang tidak harmonis antara Jakmania dengan Bonekmania. Hal semacam ini pula yang memaksa Saya untuk menahan buang air kecil smapai tiba di Surabaya kembali karena khawatir dengan lokasi toilet yang agak jauh dari rombongan. Sementara itu Jakmania yang datang semakin banyak dan kebanyakan berasal dari luar Jakarta (Outsider). Terselip perasaan bangga karena baru kali ini Saya melihat langsung Jakmania yang berasal dari Klaten, Jombang, Madiun, Nganjuk, Malang, Gresik, dsb. Tak kalah, rekan-rekan dari LAmania ikut datang mengawal Jakmania sejak dari Lamongan sampai Gresik. Akan tetapi rasa bangga dan kagum tersebut tak mampu mengobati kecemasan karena hal-hal yang tidak diinginkan bisa terjadi pada mereka kapan saja.

Sesi foto-foto dan makan menjadi salah satu kegiatan menunggu kick off. Berfoto dengan latar nama stadion wajib dilakukan oleh supporter away mana pun di dunia ini, tak terkecuali Saya. Malangnya, rekan The Jak yang memfoto Saya gagal membuat tulisan “Stadion Petrokimia Gresik” terlihat normal, damn!! Wisata kuliner pun terpaksa hanya bakso dan es degan, karena sangat riskan jika harus keluar stadion menggunakan atribut. Dan diantara hiruk pikuk Jakmania yang hadir, banyak kutipan menarik yang tertulis di kaos atau banner yang dibawa. Diantara yang Saya suka adalah kaos milik komunitas Jak Rewo-Rewo yakni “Persija Tunggal Ika” dan tulisan di kaos para Korlap yakni “Datang paling awal, pulang paling akhir. Bersiap untuk yang terburuk, berharap untuk yang terbaik”. Sangat inspiratif.

Stadion ini terletak di dalam komplek Petrokimia, sebuah GOR yang teduh karena dikelilingi pohon rindang. Dan akhirnya, sekitar pukul 15.10 WIB Kami memasuki stadion Tri Dharma Gresik. Jumlah Jakmania yang hadir cukup banyak, hampir dua sektor, atau sekira tiga ratus orang. Tak diduga tak dinyana, Saya berdiri di barisan terdepan. Dengan jumlah massa yang hanya ratusan, berdiri di urutan terdepan membuat Saya bisa mengikuti hampir seluruh instruksi dari dirigen The Jakmania yang sudah kesohor, mpok Halime dan bang Fales baik nyanyian mau pun gerakan/atraksi.

Dari puluhan kali menyaksikan Persija secara langsung, baru kali ini Saya bisa menikmati pertandingan sebagai suporter “seutuhnya”, bukan hanya sebagai penonton. Karena hampir sepanjang pertandingan Saya bernyanyi, bergerak, berjingkrak, teriak. Nyaris tak ada waktu yang terbuang percuma hanya untuk sekadar konsentrasi ke pertandingan. Saya baru tersadar betapa ada perbedaan yang sangat signifikan antara pengamat, penonton, dan suporter sepakbola. Diantara atraksi yang paling Saya suka adalah atraksi membolak-balikkan kertas HVS berwarna putih dan oren dan ikut membentangkan giant flag bergambar logo Persija. Benar-benar sebuah pengalaman yang berkesan. Hanya saja, kertas-kertas berwarna putih dan oren itu harus dikorbankan, karena masih ‘perawan’ dan akhirnya menjadi rusak dan tak terpakai lagi. Kertas-kertas yang jika di perkantoran dihemat pemakaiannya, justru menjadi sia-sia di stadion demi sebuah atraksi. Ironis. Sebagai tuan rumah, Ultras Gresik juga cukup kreatif, meski yang aktif hanya suporter di beberapa bagian stadion. Kibaran bendera raksasa juga mereka lakukan, atraksi ombak, meski belum maksimal.

Pertandingan sendiri berjalan kurang menarik, karena  Persija seperti canggung dan terbawa emosi dalam memainkan bola, sehingga praktis tak banyak mengancam pertahanan tuan rumah. Babak pertama Persija cukup mengancam, hanya di babak kedua Persija bermain lebih terbuka dan tentunya mengundang risiko yang berdampak pada mental pemain. Hal ini terbukti  ketika dihukum penalti Persija semakin panik dan akhirnya kembali kebobolan. Kalah 2-0 dan menyisakan sesak bagi rekan-rekan Jakmania, namun Saya dan Jakmania lain tentunya tetap bangga!

Pertandingan berakhir namun cerita lain baru saja dimulai. Hari mulai gelap dan Jakmania tidak bisa langsung keluar dari stadion. Isu pengadangan oleh Bonek menjadi yang paling merebak. Hampir tak ada jaminan dari Ultras Gresik selaku tuan rumah. Saya sempat kasihan ketika ngobrol dengan sepasang Jakmania dari Juanda, Sidoarjo, yang harus menempuh perjalanan dengan sepeda motor, tanpa ada teman. Semoga mereka sampai tujuan. Kami dan seluruh Jakmania tertahan di lapangan kurang lebih lima menit, sebelum akhirnya bergerak perlahan menuju tempat parkir. Nyanyian ucapan terima kasih dari Jakmania kepada Ultras Gresik  cukup mencairkan suasana magrib yang sedari tadi tegang. Setelah berhasil membagi anggota SurabaJAK ke dalam dua mobil, kami mencopot semua atribut dan mematikan lampu di dalam mobil. Semua waspada, semua lelah, semua pasrah. Jak Angel SurabaJAK memilih langsung tidur, yang lain sibuk memakai jaket, mengganti baju, menyimpan syal. Seperti yang telah diprediksi, polisi siaga dimana-mana. Alhamdulillaah, sampai pintu masuk tol arah Surabaya semua aman. Semua lega. Namun pikiran belum tenang, mengingat masih banyak Jakmania yang tertahan dan belum bisa pulang.

Kami sampai basecamp yakni rumah dari kawan Jati sekitar jam 19.30 WIB dengan ucapan syukur, senang, dan kecewa. Disana kami menyempatkan diri untuk sekadar cuci muka, minum, ngecas hp, nonton bola. Kebetulan MU sedang memimpin 4-2 atas Everton, meskipun akhirnya pertandingan berakhir seri. Saya kecewa lagi. Ternyata masih ada uang sisa dari patungan anggota sebesar Rp 75.000,- di awal keberangkatan, yang akhirnya dikonversi menjadi nasi bungkus untuk semua anggota. Beralaskan tikar di halaman, kami menyantap makanan dengan lahap. Indahnya kebersamaan. Setelah kenyang, Saya pamit bersama bang Rio mengingat esok harus bekerja. Hari yang menguras tenaga dan emosi. Terima kasih SurabaJAK, Armi, Rio, Agung, LAmania, Ultras Gresik, kalian semua asik!

Dipublikasi di Tulisan | Meninggalkan komentar

Catatan Perjalanan Surabaya – Jakarta dengan Gunung Harta

“Mau ambil souvenir Pak?” tanya supir taksi itu kepada Saya. Saya yang sedang diburu waktu sama sekali tak mengerti pertanyaan sang supir yang terlihat ragu karena lokasi pembagian suvenir sudah terlihat, tak jauh dari pertigaan dekat Gramedia Expo Surabaya. Setelah dijelaskan bahwa ada pembagian suvenir gratis dari Orenz Taxi, maka Saya tak ragu untuk menerimanya. Bingkisan berupa dua buah tas kecil itu harus ditebus dengan kehilangan beberapa menit, karena sang supir harus mundur perlahan melawan arus demi bisa melalui jalan tikus menuju Jalan Arjuna Raya, tempat agen PO Gunung Harta bermarkas. Tak sia-sia, Saya sampai di tujuan persis dua puluh menit sebelum kickoff, maksud Saya sebelum keberangkatan bis, hehe…

PO Gunung Harta memang “pemain baru” di trayek Surabaya – Jakarta. Trayek resminya adalah Malang – Surabaya – Jakarta – Bogor. Tempat pemberhentian di Jakarta yang berhak disambangi GH adalah terminal Rawamangun dan agen Pasar Rebo. Dan setelah Saya bertanya sana-sini serta join di grup Facebook Gunung Harta Lovers, kemungkinan besar GH menggunakan armada baru dengan mesin Mercedes Benz OH 1626 berbusana Adi Putro Jetbus. Masih gress pastinya. Dengan keberangkatan dari Surabaya pukul 15.30 WIB, Saya pun rela cuti satu hari demi bisa menikmati pelayanan PO yang bermarkas di Bali ini. Dan tak lama setelah menikmati soto ayam yang terlalu asin di sebelah agen, Saya langsung dibuat takjub dengan sebuah bis hijau yang bersiap masuk garasi sempit dan membuat kemacetan. Rasa asin yang terkecap di lidah sontak hilang, berganti rasa penasaran untuk langsung duduk dan menikmati “keindahannya”, hehe…

Sebelum naik, Saya mengambil gambar muka si GH. Ada sedikit retak di kaca depan, tapi sama sekali tidak mengganggu tampilan si hijau. Tidak ada pintu di kanan untuk keluar masuk supir, seperti yang disyaratkan Kementerian Perhubungan. Di pintu depan untuk masuk penumpang ada dua buah stiker bertuliskan logo “bismania.org” yang sepertinya masih baru. Saya memang beruntung, meski baru memesan tiket sehari sebelumnya (24/5) dengan harga bersaing, Rp 230.000,- saya bisa mendapatkan hot seat, kursi di belakang supir. Lebih lega dan lebih nyata sensasinya jika bis ngeblong, begitu tentu pemikiran semua bismania tentang kursi yang biasanya terdaftar dengan nomor A4 tersebut. Setelah nyaman dengan posisi duduk, Saya ngobrol dengan seorang Bapak yang naik dari Malang. Tepat pukul 13.30 WIB GH berangkat dari Malang menuju Surabaya untuk kemudian berhenti lagi di Tuban, karena ada dua calon penumpang menunggu disana. Total penumpang yang naik dari Malang, Surabaya dan Gresik berjumlah  sepuluh orang, sehingga hari itu GH membawa dua belas penumpang “resmi”, karena ada dua orang –entah pekerja atau rekan supir– yang ikut sampai Lamongan.

Jam digital di bis diawaki dua orang supir ini menunjukkan pukul 15.25 WIB ketika tinggal landas dari agen di Arjuna Raya. Tak menunggu lama, snack pertama dibagikan yang berisi roti dan kacang dengan merk khusus Gunung Harta, produksi Malang serta sebuah air mineral 330 ml. Salah satu yang membuat snack terkesan eksklusif adalah kardus putih yang bertuliskan ‘Gunung Harta’ dengan huruf timbul. Bis kemudian memasuki tol menuju Gresik dengan dinahkodai oleh Pak Gendut (Saya belum kenal namanya) yang membawa bis sedikit “kasar”. Setidaknya itu informasi yang Saya dapat dari Bapak sebelah Saya, penumpang dari Malang tadi. Sepanjang tol tidak ada yang istimewa, hanya saja Pak Gendut sering sekali membunyikan klakson, dan seenaknya “meneror” pengendara motor untuk tidak menghalangi laju si GH. Saya jadi sedikit kurang simpatik pada Pak Gendut ini. Sambil bicara ngalor ngidul, Bapak sebelah Saya berteori: cara orang membawa mobil mencerminkan bagaimana dia berumahtangga. Bapak yang belakangan Saya ketahui lulusan S3 dan seorang dosen ini kemudian membandingkan dengan Pak Kumis, supir kedua yang lebih luwes dalam memainkan setir OH 1626. Si Bapak rupanya pernah naik GH dari Jakarta – Surabaya beberapa hari sebelumnya dengan driver Pak Kumis.

Kami sampai di terminal Bunder, Gresik pukul 16.26 WIB dan menunggu cukup lama untuk beberapa penumpang. Beberapa kali Pahala Kencana tujuan Bandung dan Jakarta melewati kami dengan armada New Travego dan tenaga Mercy OH 1525 dan 1526. Perjalanan berlanjut dan nyaris tak ada bis yang bisa dilewati atau melewati kami. Sepanjang Pantura kami beriringan dengan truk, bis tanggung, mobil pribadi, dan hanya kress dengan beberapa bis yang menuju Surabaya. Kami akhirnya sampai di pemberhentian pertama di daerah Tuban, yakni RM Taman Sari pada pukul 17.56 WIB. Setelah shalat Magrib dan Isya, Saya menikmati makanan prasmanan. Ruang makan penumpang GH terletak di pojok belakang, dekat mushola. Hidangan yang disediakan cukup standar, nasi, sayur, ayam, dan teh manis.

Sekitar setengah jam istirahat, Kami melanjutkan perjalanan dengan driver Pak Kumis. Benar saja, driver yang satu ini lebih luwes dan piawai dalam mengendalikan OH 1626. Meski terkesan lambat, namun yang ingin ditonjolkan oleh GH kepada penumpangnya adalah kenyamanan. Setelah istirahat dan makan, tentu penumpang ingin merasakan nyamannya berada di dalam bis. Tak heran, Pak Kumis tak beraksi ketika GH berturut-turut di-blong oleh PO Indonesia berbaju Proteus dan daleman Hino RK serta Pahala Kencana asal Madura tujuan Bandung. Pak Kumis tetap menjaga kecepatan dan konsisten dalam membabat habis truk dan mobil pribadi yang “menghalangi”, meski harus rela diasapi oleh Indonesia dan PK.

Tanpa sadar, GH yang Saya naiki sudah memasuki Rembang ketika Pak Kumis melewati Harum Pariwisata meski tak lama kemudian kembali di-blong oleh Karina entah line mana. Tepat pukul 20.00 WIB Pak Kumis bertopi ini berubah pikiran. Tiba-tiba OBL dari Mataram, serta Karina yang sejak tadi berada di depan. Namun perlawanan Karina tak selesai sampai disana. Tak perlu menunggu lama, Karina yang misterius itu kembali berhasil mengangkangi kami. Tapi bukan Pak Kumis namanya kalau mudah menyerah. Berkat kepiawaiannya, tiga bis di depan berhasil diasapi. Mereka adalah Karina, PK Madura, dan Indonesia! Bis yang begitu agresif ketika di Tuban. Saya yang sebenarnya sudah ngantuk memaksakan diri membuka mata, berharap Pak Kumis kembali menyalakan sein kanan. Tapi tak banyak yang bisa dilihat, karena stok bis di Pantura saat itu sedang sepi, hanya truk, minibus travel, dan mobil pribadi saja yang bisa ‘disantap’. Bahkan ketika memasuki Lasem, kami malah di-blong oleh PK tujuan Jakarta.

Saya terbangun ketika GH melewati terminal Mangkang, Semarang. Sebuah terminal yang besar, namun terkesan sepi untuk sebuah terminal di ibukota propinsi. Dan selama di kawasan Semarang, kami sempat memecundangi Lorena yang sebelumnya terlihat ‘aktif’ di depan. Malam itu banyak sepeda motor yang beriringan, seperti baru pulang kerja, dan sedikit ‘mengganggu’ laju si GH, dan Saya memutuskan untuk tidur lagi, hehe… Jam di GH nopol DK GH menunjukkan pukul 00.00 WIB ketika kami memasuki RM Sari Rasa di daerah Weleri sebagai lokasi check point. Disana banyak berkumpul PO lain untuk hal serupa, diantaranya Harapan Jaya dengan Scania-Scorking, OBL, dll. Sebuah rumah makan yang lebih cocok disebut sebagai terminal bayangan, mengingat ramainya bis yang masuk dengan berbagai kepentingan. Selepas dari RM Sari Rasa hampir semua penumpang sudah lelap. Begitu pun Saya, yang langsung menyetel kursi dengan posisi sudut tumpul, dan semakin terasa suspense dari si Mercedes.

Saya baru terbangun ketika pukul 05.00 WIB bis memasuki RM Singgalang Jaya di daerah Indramayu. Sholat subuh dan menikmati teh hangat menjadi pilihan sebagian besar penumpang, mengingat pagi di Pantura ternyata cukup menggigit. Sebelumnya Saya belum pernah berhenti istirahat sepagi ini di Pantura. Setelah sekira dua puluh menit rehat, semua penumpang naik dan melanjutkan perjalanan. Tongkat kepemimpinan GH dipegang oleh Pak Kumis yang sepertinya lebih mendominasi selama perjalanan. Tak banyak bis yang melaju di Pantura, praktis hanya sebuah Luragung Jaya yang terlihat di depan, dan langsung didahului tanpa basa-basi oleh Pak Kumis. Kami kemudian mampir di SPBU daerah Subang untuk menghidupi si Hijau Mickey Mouse ini. Tak lama berhenti, Kami dibagikan snack kedua yang berisi roti dan air mineral dalam gelas. GH sepertinya tahu betul cara berpromosi yang elegan. Sebagai pengganti sarapan, penumpang cukup diberikan snack yang bisa mengganjal perut, mengingat Ibbukota pun sudah tak lagi jauh. Pak Kumis memasuki garis finish di terminal Rawamangun sekitar pukul 08.30 WIB. Dengan mengucap sekadar kata perpisahan dan terima kasih pada Bapak Psikolog sebelah Saya dan Pak Kumis untuk kebersamaan yang indah selama tujuh belas jam. Saya lantas mengarungi jalanan menuju Bekasi, tentunya dengan bekal pengalaman bersama GH, dan harapan semoga terulang dengan pelayanan yang sama atau lebih baik lagi. Sampai jumpa lagi, Gunung Harta! (Surabaya – Jakarta, 25 – 26 Mei 2012).

Dipublikasi di Tulisan | 1 Komentar

Mudik dan LPM Sketsa

Perayaan Idul Adha kali ini terasa berbeda. Tahun ini keluarga Saya mendobrak tradisi kebanyakan masyarakat Indonesia, mudik ke kampung halaman tidak pada akhir Ramadhan. Kegiatan ini dilakukan sebagai “kompensasi” karena pada hari raya Idul Fitri yang jatuh pada 6 November 2011 Kami melewatkannya di pinggiran Ibukota tercinta. Dengan menyewa sebuah minibus terlaris di Indonesia, keluarga Saya alhamdulillaah sampai di Purbalingga dengan selamat. Sementara Saya dan adik menyusul sehari kemudian dengan bis yang masih menjadi “penguasa” trayek Banyumasan, Sinar Jaya. Kehadiran Saya sebagai anggota mudik kali ini sebenarnya sebuah pertaruhan, karena Saya sedang menunggu penempatan tugas di BRI (dirahasiakan tanggalnya), tempat Saya mengenyam pendidikan selama lima belas bulan terakhir.

Malam takbir Idul Adha kali ini juga berbeda. Bermula dari pemesanan tiket bis untuk Om yang segera ke Jakarta, berujung pada kegiatan nostalgia “reguler” yang Saya lakukan tiap kali mampir ke Bumi Satria dan Perwira, yakni mampir ke lingkungan kampus tercinta, Universitas Jenderal Soedirman. Sebelumnya Saya memang telah membuat janji untuk mengambil majalah terbaru dari UKM Saya selama kuliah, LPM Sketsa. Tak lama, Saya sampai di sekretariat, ruangan kecil namun cukup luas dibanding UKM lainnya di area PKM Unsoed. Sambutan hangat masih terasa dari PU Sketsa, Arbi, yang dulu ketika Saya masih aktif merupakan “anak baru”. Posisi seolah bertukar, Sayalah “anak baru” dan merasa asing karena tak ada lagi orang yang Saya kenal. Tapi seperangkat komputer dan printer, tumpukan majalah dari berbagai kampus di kardus, Harian Kompas yang selalu gratis, hingga plakat dan sejenisnya yang berdebu masih tak berubah, sangat urakan khas “sarang” anak kuliah yang tengah menikmati proses hidup. Setelah cukup berbasa-basi dan menunaikan solat maghrib di Mafaza, kami memutuskan melanjutkan obrolan di salah satu kafe, setelah terlebih dahulu mengajak rekan lain yang masih di kos-kosan.

Kami sepakat memilih Libero Kafe, dan menuju lantai 2 untuk melanjutkan pembicaraan yang sudah dapat diprediksi: menarik. Meski gerimis mulai menyapa dengan lantang, tercatat enam orang yakni Saya, adik Saya yang bernama Bani, Sa’bani, Arbi, Syafik, dan seorang lagi junior yang Saya lupa namanya, berkumpul dan berdiskusi “ngalor ngidul”, persis seperti jaman kuliah. Dengan iming-iming makan di kafe, mudah memang mengajak rekan-rekan meninggalkan ruang kos dan berkumpul meski malam mulai hujan. Persis seperti yang dulu Saya dan kawan-kawan lakukan ketika alumni datang, haha…

Sambil memesan aneka makanan dan minuman, sambil menanti hujan gerimis yang tak kunjung reda, Kami membahas banyak hal. Topik yang sangat “Sketsa” seperti produk reguler, kepengurusan, rektor kampus hingga

Salah satu dari mereka kemudian berkata: “siki bocahan pada neng bank koh” (sekarang teman-teman kerja di bank loh). Aku menahan tarikan di mulut yang sedang menempel di sedotan. Lantas kawan Saya Sa’bani yang akrab disapa Bani ini melanjutkan dengan menjelaskan “fenomena” baru tersebut. Setelah berbicara panjang lebar, diketahui ada lima sampai enam orang sedang meniti peruntungan karir di sektor perbankan termasuk Saya sendiri. Saya bingung menanggapinya.

Di satu sisi senang, karena mereka terserap di sektor yang membutuhkan sumber daya manusia terampil dengan persaingan yang terbuka. Perbankan memang tidak harus diisi oleh mahasiswa terdidik dari fakultas ekonomi, asalkan memenuhi persyaratan, maka layak dianggap sebagai “bankir”. Kesempatan yang terbuka ini justru semakin membuat persaingan ketat dan dibumbui dengan anggapan masyarakat bahwasanya kerja di bank itu “enak”, tentunya semakin bergengsi pula bila seseorang dianggap sebagai “bankir”, meskipun, percayalah: banyak bankir yang merasa salah pilih.

Di sisi lain, keputusan rekan-rekan seangkatan pers mahasiswa itu sangat Saya sesalkan. Betapa tidak, ketika kuliah, Saya jelas-jelas merekomendasikan –atau mengagungkan– media massa (baik cetak maupun elektronik) kepada mereka pada umumnya dan untuk Saya sendiri pada khususnya, haha. Dulu kami berlomba untuk menghasilkan karya tulis yang cerdas dan idealis. Saling mengkritisi dengan bahasa yang lugas maupun lugu, dengan ada peraturan yang selalu dipegang kuat oleh para penulis: tulisan dibalas dengan tulisan. Tujuan yang ingin dicapai juga jelas dan mulia, untuk membebaskan ide, memajukan LPM, dan almamater. Dan jika semuanya jadi bankir, apa yang akan dikritisi? Miris tapi nyata, hehe.

Malam itu kami bicara tentang banyak hal lain, bisnis kecil-kecilan yang sedang dirintis seorang rekan, kemungkinan regenerasi yang semakin sulit di kalangan pers mahasiswa, ngomongin teman lain, ceng-cengan, mengalir seperti masa kuliah dulu. Menyenangkan.

Diantara adukan perasaan yang jarang tersebut, akhirnya kami berpisah di parkiran depan kafe. Masih enggan, sebenarnya, mengakhiri obrolan, membeli waktu yang sudah berlalu. Tapi memang tak ada pesta yang tak usai. Saya dan adik memutuskan langsung pulang, menembus malam dan hujan, melindungi majalah Sketsa terbaru di dalam tas, melaju cepat menggunakan motor pinjaman, serta berbagi perlindungan dengan sebuah jas hujan. Esok Idul Adha!

Dipublikasi di Tulisan | Meninggalkan komentar

Perempuan Muda Berabad Setelah Kartini

Kubuka lebar kedua tangan dan sendi terasa renggang

Hari yang gersang ini ternyata perayaan

Kuhirup nafas malas dan ingin memelas

Tak ingin Aku bertutur dalam ketat kebaya di depan kelas

Aku tak paham tinggi menjulang tulisanmu

Aku tak sealiran dengan kedalaman pikiranmu

Rebahkan semua dalam masa lalu

Tak kurasa lagi detik ini dengan hadirmu

Dalam deru laju jaman, tak habis gelap kemudian terang

Di gemerlap kota yang bersimbah kemewahan, terang tak benar menyingkap kegelapan

Tak ada lagi wanita pingitan, tak mudah temukan kaumku dalam kesederhanaan

Emansipasi dan kesetaraan telah ejakulasi tak sesuai porsi

Gulungan sanggul ini sesungguhnya semangat

Anggunnya kebaya ini mengukuhkan niat

Dalam perhelatan namamu ada kemerdekaan bersikap

Di tutur namamu ada gejolak dalam berhak

Kartini hidup dan berjuang dalam zamannya

Tantangan bertransformasi mencari bentuk mutakhir

Seolah menantang perempuan merdeka tak hanya tentang karir

Percaya dan terus berpikir ini bukan akhir

Surabaya, 21 April 2012

Yoga Suganda Sukanto

Redaktur: Miftahul Falah
Dipublikasi di Sajak | Meninggalkan komentar

Kata Tak Terkata

Aku melihat Aku menuliskan ini:

Kata-kata tak lagi tersusun rapi

Kalimat tidak akan pernah terbaca urut

Esai tak menuai ide segar

Sampai pula kita pada masa ini:

Sampai jua kita pada asingnya kata yang berserak

Telah tiba masanya kita usang dengan keterasingan

Aku buta puisi

Aku tak berasa pada kata

Aku bebal tentang naluri. Naluri tentang sendiri.

Aku merasa pada ketidaksempurnaan

Lupakan lupa atas semua

Bawa pergi kata dan kalimatmu yang tak terserap

Biarkan Aku mendedah ini tanpa itu

Surabaya, 21 Maret 2012

Yoga Suganda Sukanto

Dimuat di Republika Online http://www.republika.co.id/berita/jurnalisme-warga/wacana/12/03/21/m18buf-kata-tak-terkata-puisi

Dipublikasi di Sajak | Meninggalkan komentar

Kepada Seseorang

Kepada seseorang yang menanti tenang dalam balutan gaun panjang

Menatap gamang pada lautan jejak tanpa tuan

Berdiri tak goyah diterpa angin kering tadi siang

Aku datang tanpa alas kaki dan lotus di genggaman

          Bersamaan dengan lambaian mimpi di ufuk timur

          Takkan terhapus meski senja menjemput datang

          Lantas denting piano akan mengaliri telinga dengan teduh

          Mengalun berirama tanpa tangga nada

Lihatlah lekat pekat itu, mungkin di tengkukmu

Tatap kuat nan cermat semua cacat

Singkap biru seluas asamu, genggam erat mimpi kan terpacu

Melangkah tanpa berat tak urung lebarkan sayap

          Teruntuk engkau yang bersanding dalam sendiri

          Menanti tak tercari dalam rahasia Illahi

          Simpan semua simpul senyum itu

          Biar lukis-Nya kan lekat tersipu

 

 

Surabaya, 3 April 2012. Big dream but simple 🙂

Dipublikasi di Sajak | Meninggalkan komentar