Boleh Jadi

Boleh Jadi

Banyak pepatah, ungkapan, kata mutiara, nasihat, kalimat motivasi, atau apalah namanya, yang pernah Saya baca, dengar, baik dari bahasa Indonesia maupun asing. Namun agaknya pepatah “janganlah terlalu mencintai/membenci sesuatu, karena mungkin suatu saat Anda akan merasa sebaliknya  (membenci/mencintainya)” merupakan yang paling “menohok” dalam hidup Saya, setidaknya sampai tulisan ini dibuat.

Setelah membuka “amplop sakti” berisi kota tujuan penempatan, Saya kaget bukan kepalang. Apa pasal? Saya didaulat menjadi Junior Staf ARK (Analis Risiko Kredit) Kanwil Surabaya. Surabaya? Okelah. Sesuai dengan doa Saya kepada Gusti Allaah agar ditempatkan di kota yang ada Gramedia dan XXI nya. Alhamdulillaah. Dan mengenai kenyataan bahwasanya pecinta bola kota Surabaya tidak suka makhluk seperti Saya (baca: Jakmania) karena persaingan antar supporter yang sampai kini tulisan ini diketik, masih terjadi.

Nah! Posisi yang diamanahkan, adalah ARK. Posisi yang paling Saya hindari karena ketidakpahaman Saya terhadap spreadsheet, sebuah alat bantu perhitungan kredit yang sepertinya sulit dipahami, haha. Bagaimana tidak, perhitungan kredit selama pendidikan sepertinya “kurang jelas”, ditambah masa OJT serasa kurang serius (tapi serius Saya tak menyesal), ditambah lagi saat talent scouting, Saya menulis bahwa ARK adalah posisi yang paling tidak Saya inginkan. Alhasil begitu melihat tiga huruf itu Saya terkaget-kaget dan membuat suara yang keluar dari mulut ini bergetar bagaikan melihat rektor Unsoed sedang naik otopet.

Setelah mengucapkan selamat dan sekadar goodbye for now kepada rekan-rekan seangkatan tercinta, Saya bertekad untuk sedikit menulis apa yang Saya pikirkan. Ya, sedikit saja, karena dari ratusan kali niat menulis, hanya sebagian sangat kecil yang menjadi tulisan utuh dan layak baca. Sisanya? Hanya menjadi bangunan kalimat yang mangkrak, layaknya cost over run di bidang kredit konstruksi, hehe.

Kilas Balik

Dahulu, ketika Saya SMP dan SMA, Saya kurang suka pada mata pelajaran Akuntansi. Entah mengapa, Akuntansi selalu terlihat membosankan dan semakin membosankan tatkala Sang Guru yang mengajar hanya bisa menghukum Saya dengan PR tambahan atau pun mengerjakan tugas di depan kelas tiap kali Saya tidak mengerti langkah-langkah dalam ilmu dengan tabel tersebut. Padahal tanpa sadar, menghukum murid yang bandel hanya akan membuatnya makin terkenal, haha.

Lantas semua berjalan monoton (Akuntansinya), nyaris tak ada solusi dan tanpa sadar, “dendam pribadi“ sudah terlanjur tersulut kepada Akuntansi yang sebenarnya tak bersalah, haha.

Sebenarnya ketika guru memberikan PR untuk mata pelajaran akuntansi tersebut, kesalahan sudah dimulai. Murid otomatis akan mengerjakan PR dengan menyalin kawannya yang paham. Hal ini memang agak berbeda dengan mata pelajaran lain yang tidak bisa asal “kopas” tanpa tahu dasar-dasarnya, contohnya Matematika. Tanpa tahu step by step-nya, mustahil seorang murid bisa mengerjakan sampai akhir.

Setibanya di bangku kuliah, salah satu mata kuliah yang wajib Saya ambil adalah Pengantar Akuntansi. Memori lama seketika muncul. Apakah Saya akan “dihukum” oleh Akuntansi (lagi)?

Memori kurang bagus itu akhirnya menjadi  nyata, karena Saya tetap tidak memahami Akuntansi. Selain dosen yang mengajar kurang maksimal , minat Saya jelas minim untuk menelusuri Akuntansi.               Dan seperti yang lalu, Saya selalu menemui cara agar nilai mata kuliah tersebut baik. Setelah contek sana contek sini, akhirnya nilai akhir semester Saya untuk Akuntansi adalah A. Ajaib.

Setelah tanpa terasa mengarungi bangku kuliah selama lima tahun, tiba waktunya untuk mencari dan atau menciptakan pekerjaan. Pilihan pertama Saya ketika itu adalah mencari pekerjaan. Dan ketika pertama kali diterima bekerja, sebuah bank syariah terkemuka menerima Saya, yakni Bank Muamalat di Purwokerto. Lantas setelah ada masalah internal di manajemen, Saya memutuskan untuk keluar dan diterima sebagai teller bank bii di Jakarta. Setelah menjalani pendidikan selama sebulan, ternyata Saya diterima sebagai calon staf bank terbesar di negeri ini, bank BRI. Dan akhirnya Saya berlabuh di BRI, setidaknya untuk lima tahun ke depan.

Sejarah pun seperti selalu berulang. Setelah mengikuti proses pendidikan di BRI, Saya baru sadar bahwa Akuntansi adalah salah satu unsur penting di perbankan. Dan kali ini Saya tidak bisa main-main, tidak ada contek-contekan, yang ada adalah hak dan kewajiban sebagai calon bankir (pada waktu itu). Seorang kepala divisi pernah berkata dalam salah satu sesi pendidikan kami saat itu: “Ketika sekolah, Anda tidak boleh mencontek tapi boleh salah. Tapi di dunia kerja, Anda boleh mencontek tapi tidak boleh salah.”

Saya akhirnya mempelajari Akuntansi, meski hanya salah satu “jenis” saja, Akuntansi Perbankan. Seolah semua waktu yang Saya buang saat SMP, SMA, dan kuliah harus ditebus saat ini, hehe. Dan setelah menjalani pendidikan 1,5 tahun dan dinyatakan lulus saat ujian akhir (komprehensif), Saya ditempatkan di bagian Analisa Risiko Kredit (ARK), sebuah bagian yang dianggap “wah” dan selalu diisi oleh analis kredit andal dan memiliki posisi vital dalam sebuah rangkaian pemberian kredit. Sebuah posisi yang merupakan kejutan untuk seorang calon staf dengan rangking 44 dari 48 orang seperti Saya, hahaha…

Hari Awal dan Selanjutnya

Hari-hari akhir di hotel Surabaya, dalam sebuah perjalanan kaki menuju Tunjungan Plaza Mall, Saya berbincang dengan seorang rekan seangkatan, yang ditempatkan di posisi yang sama dengan Saya. Dari hasil diskusi kecil tersebut, Saya dan Hermawan Sutrisno, rekan Saya itu, merasa bersyukur ditempatkan di bagian ARK Kanwil Surabaya. Seorang analis kredit pastinya akan mampu memahami risiko setiap bisnis yang akan dikucuri kredit, tanpa perlu terjun ke lapangan. Cukup strategis dan lokasinya cukup dekat.

Tak perlu takut Akuntansi dan risiko pekerjaan, jalani dengan hati dan yakin akan jalan ke depan. Bukankah berkat mata kuliah Akuntansi saat kuliah Saya jadi bisa kenal dengan Irma Damayanti, seseorang dalam hidup Saya? Dalam hati Saya bersyukur dan teringat terjemah salah satu ayat Al-qur’an :

 “Boleh jadi, kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah yang paling mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah:216)

Saya yakin, insha Allaah!!!

Surabaya, 14 November 2011 – 12 Februari 2012

Tentang katatakterkata

Manusia biasa, huruf, kata, dan kalimat seadanya
Pos ini dipublikasikan di Tulisan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s