Mudik dan LPM Sketsa

Perayaan Idul Adha kali ini terasa berbeda. Tahun ini keluarga Saya mendobrak tradisi kebanyakan masyarakat Indonesia, mudik ke kampung halaman tidak pada akhir Ramadhan. Kegiatan ini dilakukan sebagai “kompensasi” karena pada hari raya Idul Fitri yang jatuh pada 6 November 2011 Kami melewatkannya di pinggiran Ibukota tercinta. Dengan menyewa sebuah minibus terlaris di Indonesia, keluarga Saya alhamdulillaah sampai di Purbalingga dengan selamat. Sementara Saya dan adik menyusul sehari kemudian dengan bis yang masih menjadi “penguasa” trayek Banyumasan, Sinar Jaya. Kehadiran Saya sebagai anggota mudik kali ini sebenarnya sebuah pertaruhan, karena Saya sedang menunggu penempatan tugas di BRI (dirahasiakan tanggalnya), tempat Saya mengenyam pendidikan selama lima belas bulan terakhir.

Malam takbir Idul Adha kali ini juga berbeda. Bermula dari pemesanan tiket bis untuk Om yang segera ke Jakarta, berujung pada kegiatan nostalgia “reguler” yang Saya lakukan tiap kali mampir ke Bumi Satria dan Perwira, yakni mampir ke lingkungan kampus tercinta, Universitas Jenderal Soedirman. Sebelumnya Saya memang telah membuat janji untuk mengambil majalah terbaru dari UKM Saya selama kuliah, LPM Sketsa. Tak lama, Saya sampai di sekretariat, ruangan kecil namun cukup luas dibanding UKM lainnya di area PKM Unsoed. Sambutan hangat masih terasa dari PU Sketsa, Arbi, yang dulu ketika Saya masih aktif merupakan “anak baru”. Posisi seolah bertukar, Sayalah “anak baru” dan merasa asing karena tak ada lagi orang yang Saya kenal. Tapi seperangkat komputer dan printer, tumpukan majalah dari berbagai kampus di kardus, Harian Kompas yang selalu gratis, hingga plakat dan sejenisnya yang berdebu masih tak berubah, sangat urakan khas “sarang” anak kuliah yang tengah menikmati proses hidup. Setelah cukup berbasa-basi dan menunaikan solat maghrib di Mafaza, kami memutuskan melanjutkan obrolan di salah satu kafe, setelah terlebih dahulu mengajak rekan lain yang masih di kos-kosan.

Kami sepakat memilih Libero Kafe, dan menuju lantai 2 untuk melanjutkan pembicaraan yang sudah dapat diprediksi: menarik. Meski gerimis mulai menyapa dengan lantang, tercatat enam orang yakni Saya, adik Saya yang bernama Bani, Sa’bani, Arbi, Syafik, dan seorang lagi junior yang Saya lupa namanya, berkumpul dan berdiskusi “ngalor ngidul”, persis seperti jaman kuliah. Dengan iming-iming makan di kafe, mudah memang mengajak rekan-rekan meninggalkan ruang kos dan berkumpul meski malam mulai hujan. Persis seperti yang dulu Saya dan kawan-kawan lakukan ketika alumni datang, haha…

Sambil memesan aneka makanan dan minuman, sambil menanti hujan gerimis yang tak kunjung reda, Kami membahas banyak hal. Topik yang sangat “Sketsa” seperti produk reguler, kepengurusan, rektor kampus hingga

Salah satu dari mereka kemudian berkata: “siki bocahan pada neng bank koh” (sekarang teman-teman kerja di bank loh). Aku menahan tarikan di mulut yang sedang menempel di sedotan. Lantas kawan Saya Sa’bani yang akrab disapa Bani ini melanjutkan dengan menjelaskan “fenomena” baru tersebut. Setelah berbicara panjang lebar, diketahui ada lima sampai enam orang sedang meniti peruntungan karir di sektor perbankan termasuk Saya sendiri. Saya bingung menanggapinya.

Di satu sisi senang, karena mereka terserap di sektor yang membutuhkan sumber daya manusia terampil dengan persaingan yang terbuka. Perbankan memang tidak harus diisi oleh mahasiswa terdidik dari fakultas ekonomi, asalkan memenuhi persyaratan, maka layak dianggap sebagai “bankir”. Kesempatan yang terbuka ini justru semakin membuat persaingan ketat dan dibumbui dengan anggapan masyarakat bahwasanya kerja di bank itu “enak”, tentunya semakin bergengsi pula bila seseorang dianggap sebagai “bankir”, meskipun, percayalah: banyak bankir yang merasa salah pilih.

Di sisi lain, keputusan rekan-rekan seangkatan pers mahasiswa itu sangat Saya sesalkan. Betapa tidak, ketika kuliah, Saya jelas-jelas merekomendasikan –atau mengagungkan– media massa (baik cetak maupun elektronik) kepada mereka pada umumnya dan untuk Saya sendiri pada khususnya, haha. Dulu kami berlomba untuk menghasilkan karya tulis yang cerdas dan idealis. Saling mengkritisi dengan bahasa yang lugas maupun lugu, dengan ada peraturan yang selalu dipegang kuat oleh para penulis: tulisan dibalas dengan tulisan. Tujuan yang ingin dicapai juga jelas dan mulia, untuk membebaskan ide, memajukan LPM, dan almamater. Dan jika semuanya jadi bankir, apa yang akan dikritisi? Miris tapi nyata, hehe.

Malam itu kami bicara tentang banyak hal lain, bisnis kecil-kecilan yang sedang dirintis seorang rekan, kemungkinan regenerasi yang semakin sulit di kalangan pers mahasiswa, ngomongin teman lain, ceng-cengan, mengalir seperti masa kuliah dulu. Menyenangkan.

Diantara adukan perasaan yang jarang tersebut, akhirnya kami berpisah di parkiran depan kafe. Masih enggan, sebenarnya, mengakhiri obrolan, membeli waktu yang sudah berlalu. Tapi memang tak ada pesta yang tak usai. Saya dan adik memutuskan langsung pulang, menembus malam dan hujan, melindungi majalah Sketsa terbaru di dalam tas, melaju cepat menggunakan motor pinjaman, serta berbagi perlindungan dengan sebuah jas hujan. Esok Idul Adha!

Tentang katatakterkata

Manusia biasa, huruf, kata, dan kalimat seadanya
Pos ini dipublikasikan di Tulisan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s