Catatan Perjalanan Tur Tandang Gresik Asik

Jam di ponsel telah menunjukkan pukul sebelas malam, ketika Josef, rekan kerja Saya mengirimkan pesan dengan media Blackberry Messenger (BBM). Sebelumnya rekan gowes yang lain, Tria, juga sudah menanyakan apakah esok hari, Ahad (22/4), Saya bisa bergabung di acara fun bike memperingati ulang tahun Universitas Surabaya (Ubaya).  Setelah lama menimbang, akhirnya dengan berat hati Saya memutuskan untuk membatalkan acara tersebut. Selain karena acara dimulai sangat pagi, keputusan yang tidak seberat memilih pasangan hidup itu harus diambil demi memenuhi rasa kangen Saya kepada tim Ibukota, Persija. Ya, Persija Jakarta akan menjalani laga tandang melawan Persegres Gresik United di kota Gresik, yang bisa dijangkau dalam waktu 45 menit dari Surabaya.  Cukup dekat dan tentunya akan menjadi momen special untuk Saya, karena akan menjadi laga tandang resmi Persija yang pertama bagi Saya. Sebelumnya Saya menyaksikan Persija langsung di luar kandang adalah melawan Persipasi di Bekasi dan menghadapi Sriwijaya FC di Palembang, keduanya adalah laga persahabatan.

Tepat pukul 09.30 WIB Saya sudah menunggu rekan Armi di halte Unair, mengingat kos-kosan Saya dekat dengan Kampus B Unair. Setelah satu jam menanti, ternyata ada masalah teknis, yakni satu mobil belum siap sehingga membuat rencana awal cukup berantakan. Sembilan belas orang SurabaJak (komunitas pecinta Persija di Surabaya) siap mendukung Persija dan membutuhkan dua mobil. Setelah diskusi kecil, Saya, Armi, dan Dewa (Jak Solo) memutuskan menuju kediaman Jati (Basecamp SurabaJak). Sesampainya disana, semua sudah berkumpul dan siap untuk menuju Gresik. Selain SurabaJak, rombongan terdiri dari Jak Sidoarjo dan Aremania zona Ayahab. Sekira pukul 12 siang kami bersiap dan sebelum berangkat Kami berdoa dan berteriak bersama: “Jaaaakkkk mania!!”

Setelah menempuh perjalanan sekitar 45 menit, akhirnya Kami sampai di Gresik. Suasana di sepanjang jalan menuju stadion dipenuhi oleh Polisi lengkap dengan kendaraan seperti motor, mobil, dan ramtis.  Di lingkungan GOR Petrokimia suasana sudah ramai dan terkendali. Meski begitu, Kami tak ingin mengambil risiko dengan tetap bergabung bersama Jakmania lainnya. Bagaimana pun, penyusup tak diundang bisa saja merusak atmosfir positif yang telah ada. Kecemasan memang jelas terasa saat itu. Jati, yang akan membeli rokok pun dibuat panik dengan adanya seorang Ultras Gresik (pendukung Persegres) yang memakai syal Green Force. Jarak Gresik yang berbatasan langsung dengan Surabaya membuat situasi tidak bisa diprediksi, mengingat hubungan yang tidak harmonis antara Jakmania dengan Bonekmania. Hal semacam ini pula yang memaksa Saya untuk menahan buang air kecil smapai tiba di Surabaya kembali karena khawatir dengan lokasi toilet yang agak jauh dari rombongan. Sementara itu Jakmania yang datang semakin banyak dan kebanyakan berasal dari luar Jakarta (Outsider). Terselip perasaan bangga karena baru kali ini Saya melihat langsung Jakmania yang berasal dari Klaten, Jombang, Madiun, Nganjuk, Malang, Gresik, dsb. Tak kalah, rekan-rekan dari LAmania ikut datang mengawal Jakmania sejak dari Lamongan sampai Gresik. Akan tetapi rasa bangga dan kagum tersebut tak mampu mengobati kecemasan karena hal-hal yang tidak diinginkan bisa terjadi pada mereka kapan saja.

Sesi foto-foto dan makan menjadi salah satu kegiatan menunggu kick off. Berfoto dengan latar nama stadion wajib dilakukan oleh supporter away mana pun di dunia ini, tak terkecuali Saya. Malangnya, rekan The Jak yang memfoto Saya gagal membuat tulisan “Stadion Petrokimia Gresik” terlihat normal, damn!! Wisata kuliner pun terpaksa hanya bakso dan es degan, karena sangat riskan jika harus keluar stadion menggunakan atribut. Dan diantara hiruk pikuk Jakmania yang hadir, banyak kutipan menarik yang tertulis di kaos atau banner yang dibawa. Diantara yang Saya suka adalah kaos milik komunitas Jak Rewo-Rewo yakni “Persija Tunggal Ika” dan tulisan di kaos para Korlap yakni “Datang paling awal, pulang paling akhir. Bersiap untuk yang terburuk, berharap untuk yang terbaik”. Sangat inspiratif.

Stadion ini terletak di dalam komplek Petrokimia, sebuah GOR yang teduh karena dikelilingi pohon rindang. Dan akhirnya, sekitar pukul 15.10 WIB Kami memasuki stadion Tri Dharma Gresik. Jumlah Jakmania yang hadir cukup banyak, hampir dua sektor, atau sekira tiga ratus orang. Tak diduga tak dinyana, Saya berdiri di barisan terdepan. Dengan jumlah massa yang hanya ratusan, berdiri di urutan terdepan membuat Saya bisa mengikuti hampir seluruh instruksi dari dirigen The Jakmania yang sudah kesohor, mpok Halime dan bang Fales baik nyanyian mau pun gerakan/atraksi.

Dari puluhan kali menyaksikan Persija secara langsung, baru kali ini Saya bisa menikmati pertandingan sebagai suporter “seutuhnya”, bukan hanya sebagai penonton. Karena hampir sepanjang pertandingan Saya bernyanyi, bergerak, berjingkrak, teriak. Nyaris tak ada waktu yang terbuang percuma hanya untuk sekadar konsentrasi ke pertandingan. Saya baru tersadar betapa ada perbedaan yang sangat signifikan antara pengamat, penonton, dan suporter sepakbola. Diantara atraksi yang paling Saya suka adalah atraksi membolak-balikkan kertas HVS berwarna putih dan oren dan ikut membentangkan giant flag bergambar logo Persija. Benar-benar sebuah pengalaman yang berkesan. Hanya saja, kertas-kertas berwarna putih dan oren itu harus dikorbankan, karena masih ‘perawan’ dan akhirnya menjadi rusak dan tak terpakai lagi. Kertas-kertas yang jika di perkantoran dihemat pemakaiannya, justru menjadi sia-sia di stadion demi sebuah atraksi. Ironis. Sebagai tuan rumah, Ultras Gresik juga cukup kreatif, meski yang aktif hanya suporter di beberapa bagian stadion. Kibaran bendera raksasa juga mereka lakukan, atraksi ombak, meski belum maksimal.

Pertandingan sendiri berjalan kurang menarik, karena  Persija seperti canggung dan terbawa emosi dalam memainkan bola, sehingga praktis tak banyak mengancam pertahanan tuan rumah. Babak pertama Persija cukup mengancam, hanya di babak kedua Persija bermain lebih terbuka dan tentunya mengundang risiko yang berdampak pada mental pemain. Hal ini terbukti  ketika dihukum penalti Persija semakin panik dan akhirnya kembali kebobolan. Kalah 2-0 dan menyisakan sesak bagi rekan-rekan Jakmania, namun Saya dan Jakmania lain tentunya tetap bangga!

Pertandingan berakhir namun cerita lain baru saja dimulai. Hari mulai gelap dan Jakmania tidak bisa langsung keluar dari stadion. Isu pengadangan oleh Bonek menjadi yang paling merebak. Hampir tak ada jaminan dari Ultras Gresik selaku tuan rumah. Saya sempat kasihan ketika ngobrol dengan sepasang Jakmania dari Juanda, Sidoarjo, yang harus menempuh perjalanan dengan sepeda motor, tanpa ada teman. Semoga mereka sampai tujuan. Kami dan seluruh Jakmania tertahan di lapangan kurang lebih lima menit, sebelum akhirnya bergerak perlahan menuju tempat parkir. Nyanyian ucapan terima kasih dari Jakmania kepada Ultras Gresik  cukup mencairkan suasana magrib yang sedari tadi tegang. Setelah berhasil membagi anggota SurabaJAK ke dalam dua mobil, kami mencopot semua atribut dan mematikan lampu di dalam mobil. Semua waspada, semua lelah, semua pasrah. Jak Angel SurabaJAK memilih langsung tidur, yang lain sibuk memakai jaket, mengganti baju, menyimpan syal. Seperti yang telah diprediksi, polisi siaga dimana-mana. Alhamdulillaah, sampai pintu masuk tol arah Surabaya semua aman. Semua lega. Namun pikiran belum tenang, mengingat masih banyak Jakmania yang tertahan dan belum bisa pulang.

Kami sampai basecamp yakni rumah dari kawan Jati sekitar jam 19.30 WIB dengan ucapan syukur, senang, dan kecewa. Disana kami menyempatkan diri untuk sekadar cuci muka, minum, ngecas hp, nonton bola. Kebetulan MU sedang memimpin 4-2 atas Everton, meskipun akhirnya pertandingan berakhir seri. Saya kecewa lagi. Ternyata masih ada uang sisa dari patungan anggota sebesar Rp 75.000,- di awal keberangkatan, yang akhirnya dikonversi menjadi nasi bungkus untuk semua anggota. Beralaskan tikar di halaman, kami menyantap makanan dengan lahap. Indahnya kebersamaan. Setelah kenyang, Saya pamit bersama bang Rio mengingat esok harus bekerja. Hari yang menguras tenaga dan emosi. Terima kasih SurabaJAK, Armi, Rio, Agung, LAmania, Ultras Gresik, kalian semua asik!

Tentang katatakterkata

Manusia biasa, huruf, kata, dan kalimat seadanya
Pos ini dipublikasikan di Tulisan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s